Sponsored Content

Kamu Sudah Menonton Deratan 5 Film Sinematografi Terbaik 5 Tahun Terakhir Ini?

Tema dan jalan cerita sebuah film bisa jadi merupakan faktor utama yang menentukan bagus tidaknya sebuah film. Namun film bukan lah sebuah novel bacaan, tapi film adalah sajian audio visual. Karena itu selain jalan cerita yang bisa membuat penonton takjub, hal lain yang dipercaya akan mempengaruhi penonton ada pada teknik sinematografi.

Nah, ada film-film tertentu yang dibuat dengan teknik sinematografi luar biasa yang mampu membius kamu sebagai penontonnya. Setidaknya ini ada 5 deretan film dengan Sinematografi dalam kurun 5 tahun terakhir yang tak boleh kamu lewatkan.

Hugo, Sebuah Film yang Tak Sekedar Kisah Petualangan Anak-anak dari Robert Richardson

Menyabet 5 piala oscar dalam kategori best cinematography, art direction, special effects, film editing dan sound editing oleh para juri Oscar pada tahun 2011 jadi gambaran betapa kerennya film satu ini. Digarap oleh Martin Scorsese sebagai sutradara, serta Robert Richardson sebagai sinematografernya.

Salah satu kejeniusan Richard yang jadi salah satu bagian penting dari kesuksesan film ini adalah banyak sekali gambar yang ditangkap dari udara. Teknik ini jadi sesuatu yang dinilai menghadirkan perspektif unik nan luar biasa bagi setiap penontonnya. Selain itu permainan detail dan kontras warna dijamin akan membuat matamu takjub menyaksikan film bertema steampunk ini.

La la land, Seolah Membawa Panggung Broadway Ke Layar Cinema

La la land hadir pada 2016 dan menghebohkan dunia perfilman. Konsep ceritanya sebetulnya sederhana tentang perjuangan meraih kesuksesan dua insan. Namun yang menjadikannya luar biasa adalah karena film ini diusung dengan tema film musikal.

Dan tak sekedar musikal, namun sinematografinya seolah membawa panggung broadway yang megah ke dalam ruang sinematik. Mulai dari pergerakan hingga permaianan warna menjadikan film ini layak untuk kamu saksikan.

Menonton Film-Film Ini Juga Harus Didukung Televisi Yang Bisa Memberi Pengalaman Sinematik

Menonton film-film dalam list ini tentunya juga harus didukung dengan perangkat yang memadai. Karena itu sebelum melanjutkan menonton ada baiknya kamu menyiapkan kelengkapan audio visualmu.

Salah satu yang bisa kamu lirik adalah TV OLED LG 65E7T. Tak seperti teknologi panel tv lainnya, TV OLED LG tak lagi memerlukan pencahayaan belakang (backlight). Ketiadaan pencahayaan belakang membuat TV OLED LG ini mampu mencapai contrast ratio hingga tak terhingga. Alasannya, tanpa pendar sinar dari pencahayaan belakang membuat TV OLED LG mampu menghasilkan warna hitam sempurna.

Di sisi lain, bidang tampilan warna TV OLED LG dapat menampilkan 99% standar warna Digital Cinema Initiative’s (DCI) dengan layar 10 bit. Berpadu dengan kemampuan menghasilkan warna hitam dengan tingkat kegelapan absolut, hal ini membuat miliaran warna tertampil dengan tingkat kecerahan dan detail lebih baik dalam nuansa natural.

Karakteristik unik TV OLED LG 65E7T ini kemudian dipadukan dengan teknologi Dolby Vision yang mampu memastikan tiap warna tertampil seakurat mungkin pada tingkat kecerahan dan kontras optimal.

Sementara untuk tata suara, TV ini didukung dengan teknologi Dolby Atmos yang merupakan teknologi tata suara inovatif yang biasa ditemui pada bioskop kelas premium. Keberadaan teknologi Dolby Atmos pada TV OLED terbaru seri LG 65E7T ini membawa dua fitur andalannya yaitu Object Based Sound dan Full 360 Surround Sound.

Dengan Object Based Sound suara yang ditangkap diubah menjadi suara tiga dimensi menyesuaikan pergerakan objek dalam adegan. Sementara fitur Full 360 surround sound membuat suara dapat terasa mengalir dari segala arah. Demi mengoptimalkan keunggulan tata suara ini, LG menerapkan desain Alpine Stand sebagai dudukan TV OLED LG 65E7T yang membuat arah keluarnya suara menuju ke penggunanya langsung.

Life of Pi, Kisah Kebesaran Tuhan yang Dibungkus dengan Komedi Satir

Kalau biasanya kita akan merasa kecewa ketika menonton film yang diangkat dari sebuah novel, tidak untuk Life Of Pi. Yup, film ini jadi salah satu judul yang berhasil tak membuat kecewa penonton dan para pembaca novelnya. Sensasi petualangan yang sama seperti cerita, jadi keberhasilan Claudio Miranda sebagai sinematografernya. Mulai dari gambaran laut yang mengangumkan, hingga efek-efek unik lain yang ada selama film dipertontonkan.

Maka tak salah jika pada tahun 2013 lalu, Lif of Pi jadi pemenang untuk kategori Film dengan Sinematogarfi terbaik. Ang Lee sebagai sutradara nampaknya cukup lihai dalam mengembangkan cerita dan penggarapan filmnya. Berdurasi selama 127 menit, berhasil membuat penonton duduk manis mengangumi apa yang sedang dilihatnya. Perpaduan dunia nyata dan fantasi berpadu apik seolah tak terpisahkan.

Gravity, Tayangan yang Memanjakan Mata Namun Kerap Mengancam Jantungmu dengan Berbagai Kejutannya

Deretan film dengan sinematgrafi terbaik yang berikutnya layak kita berikan pada film Gravity garapan dari sutradara Alfonso Cuaron. Diberi penghargaan pada perhelatan Oscar tahun 2014 lalu, Gravity mengangkat tema luar angkasa dan berhasil disajikan dengan apik oleh sang sinematografernya Emmanuel Lubezki.

Hebatnya film ini hanya bercerita tentang bagaimana Dr. Ryan Stone, yang diperankan oleh Sandra Bullock, menyelamatkan dirinya dari luar angkasa setelah semua rekannya di Explorer mati akibat hujan puing yang berasal dari hancurnya satelit-satelit di sana. Nyaris sepanjang film Sandra Bullock hanya berperan sendirian.

Terbayang tak mudahnya mengelola sinematografi macam itu. Beberapa pengambilanan gambar menggunakan teknik point of view yang di atas rata-rata sehingga membuat penonton bisa seperti melihat adegan dari mata si tokoh utama. Jadi tak heran jika film ini layak disebut sebagai salah satu Film dengan Sinematigrafi terbaik yang pernah ada.

Birdman, Salah Satu Film yang Dinilai Lebih dari Sebuah Pencapaian Teknis dari Emmanuel Lubezki

Sosok inovatif, Emmanuel Lubezki lagi-lagi menunjukkan tajinya dengan sinematografinya pada film Birdman. Setelah sebelumnya memenangkan Oscar tahun 2014 untuk film Gravity, ia kembali menghadirkan pengambilan gambar yang terlihat mustahil. Memakai teknik kamera yang bergerak secara terus menerus dari satu titik ke titik lain sepanjang cerita, film ini terlihat diambil dalam satu kesempatan tanpa adanya proses editing alias pemotongan.

Akhirnya film ini memang dikenal dengan kerja tata kamera, tata artistik, tata suara, visual effects, tata musik, tata adegan, dan parade akting yang dahsyat. Karena memang itulah komponenan yang membuat film ini menarik dan berhasil memenangkan Oscar. Namun lebih dari itu, film ini bukanlah film yang hanya mengandalkan teknisnya saja. Tapi juga masuk dan menyelami sisi terdalam dari setiap manusia yang ada di balik panggung pertunjukkannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top